OBJEK WAKAF PERSPEKTIF FIQH
OBJEK WAKAF PERSPEKTIF FIQH
Rahmad
Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah (Mu’amalah) STIS PTI
Al-Hilal Sigli
Jalan Lingkar Keuniree, Sigli Provinsi Aceh
Email: rahmadsigli@gmail.com
A. Pendahuluan
Islam menuntun umatnya untuk membina hubungan baik dengan
Allah swt sebagai Pencipta dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia
dalam rangka menciptakan kemakmuran dan kemaslahatan. Salah
satu wujud menjaga hubungan baik
ialah dalam bentuk meningkatnya kepedulian sesama yang diaktualisasikan adakalanya
dengan bersedakah, berinfaq dan adakalanya juga dengan wakaf. Mewakafkan harta merupakan
anjuran dalam Islam sebagaimana firman
Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 92 :
لَن
تَنَالُواْ البر حتى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىْء
فَإِنَّ الله بِهِ عَلِيمٌ
Artinya: Kamu
sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan
maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Selain anjuran di atas, wakaf juga merupakan suatu
amalan investasi abadi dalam artian sebagai
shadaqah jariah, yaitu pemberian
yang pahalanya akan terus mengalir walaupun si pemberi telah meninggal dunia,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berbunyi :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ
الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
(رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah ra.,
sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seorang manusia meninggal dunia,
maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak yang soleh yang mendoakannya (HR Muslim)[1]
Melihat kepada anjuran di atas
kaum muslimin di seluruh penjuru dunia semestinya berlomba-lomba untuk
menginfaqkan harta bendanya khususnya dalam bentuk wakaf, secara materi manusia
yang melakukan ibadah wakaf memang tidak menuai hasil keuntungan dalam
bentuk materi, Namun keuntungan inmateri bisa dirasakan secara langsung baik di
dunia maupun di akhirat kelak.
Semangat mewakafkan harta
benda pada jalan Allah SWT sedikit mengalami kendala bahkan menimbulkan
kebingungan di kalangan para dermawan, permasalahannya terletak pada objek
wakaf itu sendiri, kebanyakan ulama terdahulu berkesimpulan objek wakaf
terbatas pada benda tidak bergerak yang kekal ainnnya seperti tanah, lahan
perkebun dan pertanian serta bangunan, hal ini dikarenakan mayoritas orang kaya
dan mampu saat itu memiliki kekayaan dalam bentuk aktiva tetap seperti tanah
dan bangunan, sedangkan dewasa ini para dermawan mempunyai kekayaan dalam
bentuk aktiva tetap dan tidak tetap seperti Uang, Saham, dan surat berharga
lainnya. Maka oleh sebab itu dalam makalah ini akan dipaparkan bagaimana para
ulama menguraikan perihal tersebut berlandaskan Al-Quran dan Hadist dengan
memberikan penjelasan yang memadai.
B.
Pengertian Wakaf
Secara bahasa, kata wakaf berasal dari bahasa Arab yaitu, وقف - يقف - وقف yang berarti menahan untuk berbuat, membelanjakan.[2]
Dikatakann وقف - يقف – وقف maksudnyaحبس- يحبس- حبس yang bermakna menahan.[3]Sedangkan menurut istilah ada beberapa definisi wakaf, diantaranya:[4]
1.
Menurut golongan ulama
Hanafiah
حَبْسُ العَيْنِ عَلَى
المِلْكِ الوَاقِفِ وَالتَّصَدُّقِ بِمَنْفَعَتِهَا.
Menahan benda yang statusnya tetap milik si wakif
(orang yang mewakafkan) dan yang disedekahka nadalah manfaatnya saja.
2.
Menurut golongan Malikiah
جَعْلُ مَنْفَعَةٍ مَمْلُوْكٍ وَلَوْ
بِأُجْرَةٍ اَوْغُلَّةٍ لِمُسْتَحِقٍّ بِصِيغَةِ مُدَّةٍ مَايَرَاهُ المُحْبِسُ.
Menjadikan manfaat benda yang dimiliki, baik berupa sewa atau hasilnya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dengan bentuk penyerahan berjangka waktu sesuai denang apa
yang dikehendaki oleh
orang yang mewakafkan.
3.
Menurut golongan Syafi’iah
حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ
الاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِى رَقَبَتِهِ علَى
مَصْرَفٍ مُبَاحٍ
Menahanharta
yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuhnya barang, dan barang itu lepas dari penguasaan si wakif serta dimanfaatkan pada suatu
yang diperbolehkan oleh
agama.
C. Rukun Dan Syarat Wakaf
Menurut Jumhur Ulama Rukun waqaf terdiri dari empat yaitu:
1.
Ada
orang yang berwakaf (Wakif).
2.
Ada
sesuatu atau harta yang akan diwakafkan (Mauquf).
3.
Ada
tempat diwakafkan harta itu /Penerima Manfaat Waqaf (Mauquf‘alaih).
D. Dalil-dalil Tentang Wakaf
1. Dalil Al-Quran
Pertama, Al-Quran surat Ali-Imran ayat 92 sebagai berikut:
لَن
تَنَالُواْ البر حتى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىْء
فَإِنَّ الله بِهِ عَلِيمٌ
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamucintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya
Kedua, Al-quran surat Al-Baqarah ayat 261 sebagai berikut:
ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZã óOßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y @Î/$uZy Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ïè»Òã `yJÏ9 âä!$t±o 3 ª!$#ur ììźur íOÎ=tæ ÇËÏÊÈ tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZã öNßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# §NèO w tbqãèÎ7÷Gã !$tB (#qà)xÿRr& $xYtB Iwur ]r& öNçl°; öNèdãô_r& yYÏã öNÎgÎn/u wur ì$öqyz óOÎgøn=tæ wur öNèd cqçRtóst
Arinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah
melipatgandakan (ganjaran) bagisiapa yang Diakehendaki.dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagiMahamengetahui. Orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang
dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak
menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan
mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.
2.
Al-Hadis
Landasan doctrinal tentang wakaf yang disepakati para
ulama adalah beberapa Hadist berikut ini:
Pertama, Hadist Umar tentang tanah Khaibar, yaitu Hadist dari Ibn
Umar RA, yaitu perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di
Khaibar:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا
سُلَيْمُ بْنُ أَخْضَرَ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ
أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا
تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَاقَالَ فَتَصَدَّقَ
بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا
فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ
مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ.[6]
Artinya: Dari Ibn Umar berkata: Umar memperoleh
tanah di Khaibar lalu ia pergi menghadap Nabi saw untuk mendapat perintah atas
hartanya tersebut. Ketika telah menghadap Nabi ia mengatakan: Wahai Rasulullah,
aku memperoleh tanah di Khaibar, Saya
belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu, apa perintahmu
untukku atas harta tersebut? Nabi menjawab: "apabila engkau mau, 'tahanlah'
asalnya dan sedekahkan hasilnyaIbnu Umar berkata, “Maka bersedekahlah Umar dengan
buahnya, dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, dan diwariskan. Dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang fakir, para
kerabat, para budak, orang-orang yang berjuang di
jalan Allah, Ibnu Sabil , dan para tamu. Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf, dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya” [HR. Imam Bukharidan Muslim].
Kedua, Hadits Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
ra:
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ فَقِيلَ مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ
وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ
اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدْ
احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: Rasulullah saw telah memerintahkan para shahabat untuk membayar zakat. Lalu,
dikatakan bahwasanya Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalibra menolak membayar zakat. Nabi saw pun bersabda, “Tidaklah Ibnu Jamil menolak (membayar zakat) kecuali karena ia adalah fakir. Lalu, Allah swt dan RasulNya mengayakandirinya. Adapun Khalid; sesungguhnya kalian telah mendzalimi Khalid. Sungguh, Khalid telah menahan (mewaqafkan) baju besinya, dan menyediakannya untuk Jalan Allah.
E. Objek Wakaf Menurut Fiqh
Objek Wakaf yang disetujui jumhur ulama
terdiri dari dua bentuk, Pertama benda tidak bergerak (Ghairu
Manqul) dan Kedua, benda bergerak (Manqul). Pada kedua objek
tersebut terikat dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas yaitu objek
wakaf merupakan benda bernilai dan bermanfaat, milik tam si wakif, bisa
diseraterimakan dan jelas keberadaannya. Para ulama telah menetapkan salah satu
syarat terpenting dalam harta yang diwakafkan harus bersifat tetap (tsabit), yaitu barang tersebut bisa dimanfaatkan tanpa merubah bentuknya. Barang tetap (tsabit) ini terbagi menjadi dua; pertama: benda
tidak bergerak (ghairu al-manqul),seperti tanah dan bangunan, kedua: benda
bergerak (al-manqul).[7]
Jumhur ulama fuqaha menegaskan kebolehan wakaf benda-benda bergerak
dengan penegasannya sebagai berikut:
ذهب جمهور الفقهاء من الشّافعيّة والحنابلة ، وهو المعتمد عند
المالكيّة وزفر من الحنفيّة إلى جواز وقف المنقول ، كوقف فرسٍ على الغزاة
وسلاح وغيرهما ، لحديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه : « من احتبس فرساً في
سبيل اللّه إيماناً باللّه وتصديقاً بوعده فإنّ شِبَعَه ورَيَّه وروثه وبوله في
ميزانه يوم القيامة » ، ولقوله صلى الله عليه وسلم : « وأمّا خالد فإنّكم تظلمون
خالداً ، فإنّه احتبس أدراعه وأعتده في سبيل اللّه »[8]
Jumhur
ulama fuqaha yang terdiri dari Ulama Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiah dan Imam
Zufar dari kalangan Ulama Hanafiah membolehkan wakaf benda bergerak berdasarkan
hadis tentang wakaf kuda pada riwayat Abu Hurairah di atas dan tentang wakaf
baju besi yang dilakukan Khalid dalam hadis kedua di atas, bahkan ulama Malikiah
berpendapat kebolehan wakaf benda bergerak merupakan pendapat muktamad
mazhabnya.
1.
Menurut
Ulama Hanafiah
Mengenai dengan objek wakaf benda yang bergerak, ulama Hanafiah
mengemukakan:
وتفصيل
مذهب الحنفية في ذلك أن مقتضى قول أبي حنيفة وأبي يوسف عدم جواز وقف النقود ، لأنه
لا يجوز وقف المنقولات أصلا عندهما[9]
وفي القياس عند الحنفيّة لا يجوز وقف المنقول لأنّ شرط الوقف
التّأبيد والمنقول لا يتأبّد فترك القياس للآثار الّتي وردت فيه[10]
Pada
dasarnya Imam Hanafi sendiri serta salah satu muridnya Abu Yusuf tidak
membolehkan wakaf benda bergerak, karena benda tersebut tidak memenuhi
unsur ta’bid yakni berkekalan ainnya. Namun Abu Yusuf
membolehkannya apabila benda bergerak tersebut mengikuti benda tidak bergerak,
hal ini berdasarkan konsep istihsan sebagai terdapat pada teks berikut
ini:
وقال
أبو يوسف ومحمّد : يجوز وقف المنقول تبعاً للأرض وذلك استحساناً ؛ لأنّه قد
يثبت من الحكم تبعاً ما لا يثبت مقصوداً ، كما إذا وقف ضيعةً ببقرها وأكرتها ،
وكذلك سائر آلات الحراثة لأنّها تبع للأرض في تحصيل ما هو المقصود ، وكذا وقف
السّلاح والخيل يجوز استحساناً .
وأمّا وقف المنقول قصداً فلا يجوز عند أبي حنيفة وأبي يوسف ، ويجوز
عند محمّد إذا كان متعارفاً بين النّاس ؛ لأنّ التّعامل بين النّاس يترك به
القياس ، لقول ابن مسعود : ما رأى المسلمون حسناً فهو عند اللّه حسن[11]
Sedangkan
salah satu murid Imam Hanafi yang lainnya yaitu Muhammad Alsyalbaini
membolehkan wakaf benda bergerak bukan hanya berdasarkan konsep istihsan,namun
kebolehan wakaf benda bergerak karena berlaku adat di sebuah tempat, hal ini
bisa dilihat dengan pengasannya sebagai berikut:
وقول محمد أنه لا يجوز وقف
المنقولات لكن إن جرى التعامل بوقف شيء من المنقولات جاز وقفه . قال في
الاختيار والفتوى على قول محمد لحاجة الناس وتعاملهم بذلك ، كالمصاحف
والكتب والسلاح .
وبناء
على ذلك ، فحين جرى التعامل في العصور اللاحقة بوقف النقود وجدت الفتوى بدخول
النقود تحت قول محمد بجواز وقف ما جرى التعامل بوقفه . قال في الدر المختار
بل ورد الأمر للقضاة بالحكم به كما في معروضات أبي السعود[12]
Dengan melihat pernyataan beliau di atas pada dasarnya Muhammad
Alsyalbaini juga tidak membolehkan wakaf benda-benda bergerak kecuali benda-benda
bergerak tersebut sudah menjadi tradisi adat di sebuah tempat bahwa benda tersebut diwakafkan karena
dilandasi sebuah kebutuhan seperti mushaf, buku dan senjata.
Dari uraian di atas mengenai dinamika pendapat ulama tentang
kebolehan wakaf benda bergerak, penulis tertarik dengan pernyataan salah
seorang ulama mazhab Hanafi yakni Imam Muhammad Alsyalbaini tentang kebolehan
wakaf benda bergerak yang tidak hanya berdasarkan kedua hadis di atas dan juga
bukan karena benda bergerak tersebut mengikuti benda tidak bergerak, tetapi
kebolehan Wakaf benda bergerak dikarenakan sudah menjadi tradisi sebuah
tempat dan diwakafkan karena kebutuhan bahwa benda bergerak tersebut
diwakafkan (قال
في الاختيار والفتوى على قول محمد لحاجة الناس وتعاملهم بذلك، كالمصاحف
والكتب والسلاح). Maka dari pernyataan tersebut penulis menyimpulkan bahwasanya
dengan melihat pernyataan Imam Muhammad Alsyalbaini memungkinkan untuk
diqiaskan kebolehan wakaf benda-benda bergerak lainnya yang statusnya merupakan
sebuah kebutuhan umat seperti Uang dan lainnya.
2. Menurut Ulama Mazhab
Maliki
Dalam kitab Hasyiah Dusuqy ‘Ala
Syarhi Kabir:
وَأَرَادَ
بِالْمَمْلُوكِ مَا يَشْمَلُ مِلْكَ الذَّاتِ وَمِلْكَ الْمَنْفَعَةِ فَلِذَا
قَالَ (وَإِنْ) كَانَ الْمِلْكُ الْمَدْلُولُ عَلَيْهِ بِمَمْلُوكٍ (بِأُجْرَةٍ)
لِكَدَارٍ اسْتَأْجَرَهَا مُدَّةً مَعْلُومَةً فَلَهُ وَقْفُ مَنْفَعَتِهَا فِي
تِلْكَ الْمُدَّةِ وَيَنْقَضِي الْوَقْفُ بِانْقِضَائِهَا؛ لِأَنَّهُ لَا
يُشْتَرَطُ فِيهِ التَّأْبِيدُ كَمَا سَيَأْتِي وَشَمِلَ قَوْلُهُ بِأُجْرَةٍ مَنْ
اسْتَأْجَرَ دَارًا مُحَبَّسَةً مُدَّةً فَلَهُ تَحْبِيسُ مَنْفَعَتِهَا عَلَى
مُسْتَحِقٍّ آخَرَ غَيْرِ الْمُسْتَحِقِّ الْأَوَّلِ فِي تِلْكَ الْمُدَّةِ
وَأَمَّا الْمُحَبَّسُ عَلَيْهِ فَلَيْسَ لَهُ تَحْبِيسُ الْمَنْفَعَةِ الَّتِي
يَسْتَحِقُّهَا لِأَنَّ الْحَبْسَ لَا يُحَبَّسُ (وَلَوْ) كَانَ الْمَمْلُوكُ
(حَيَوَانًا وَرَقِيقًا) مِنْ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ أَيْ فَيَصِحُّ
وَقْفُهُ وَيَلْزَمُ[13]
Berdasarkan penggalan teks di atas
penulis memahami bahwasanya ulama mazhab malikiah memberikan penekanan utama
objek wakaf adalah harta yang dimiliki oleh si wakif baik kepemilikan dalam
bentuk benda maupun manfaat, wakaf manfaat dimplementasikan dalam bentuk
menyewakan benda tersebut dalam waktu tertentu dan menjadikan manfaatnya
(Ujrah) sebagai objek wakaf, kebolehan ini dilandasi alasan di kalangan ulama
malikiah yang tidak mensyaratkan ta’bid dalam wakaf.
3. Menurut Ulama Mazhab
Syafi’iyah.
Dalam Kitab Fathul Wahab
وَ
" شَرْطٌ " فِي الْمَوْقُوفِ كَوْنُهُ عَيْنًا مُعَيَّنَةً "
وَلَوْ مَغْصُوبَةً أَوْ غَيْرَ مَرْئِيَّةٍ " مَمْلُوكَةً "
لِلْوَاقِفِ نَعَمْ يَصِحُّ وَقْفُ الْإِمَامِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ
"تُنْقَلُ" أَيْ تَقْبَلُ النَّقْلَ مِنْ مِلْكِ شَخْصٍ إلَى مِلْكِ
آخَرَ " وَتُفِيدُ لَا بِفَوْتِهَا نَفْعًا مباحا مقصودا " هما من
زيادتي وسواء كان النَّفْعُ فِي الْحَالِ أَمْ لَا كَوَقْفِ عَبْدٍ وجحش صغيرين
وسواء أكان عقارا أَمْ مَنْقُولًا " كَمُشَاعٍ
فَلَا
يَصِحُّ وَقْفُ مَنْفَعَةٍ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِعَيْنٍ
وَلَا مَا فِي الذِّمَّةِ وَلَا أَحَدِ عبديه لعدم تعينهما ولا مالا يُمْلَكُ
لِلْوَاقِفِ كَمُكْتَرًى وَمُوصًى بِمَنْفَعَتِهِ لَهُ وَحُرٍّ وَكَلْبٍ وَلَوْ
مُعَلَّمًا وَلَا مُسْتَوْلَدَةٍ وَمُكَاتَبٍ لِأَنَّهُمَا لَا يَقْبَلَانِ
النَّقْلَ وَلَا آلَةِ لَهْوٍ وَلَا دَرَاهِمَ لِلزِّينَةِ لِأَنَّ آلَةَ
اللَّهْوِ مُحَرَّمَةٌ وَالزِّينَةَ غير مقصودة ولا مالا يُفِيدُ نَفْعًا كَزَمِنٍ
لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ وَلَا مالا يُفِيدُ إلَّا بِفَوْتِهِ كَطَعَامٍ وَرَيْحَانٍ
غَيْرِ مَزْرُوعٍ لِأَنَّ نَفْعَهُ فِي فَوْتِهِ وَمَقْصُودُ الْوَقْفِ الدَّوَامُ
بِخِلَافِ مَا يَدُومُ كَمِسْكٍ وَعَنْبَرٍ وَرَيْحَانٍ مَزْرُوعٍ.[14]
Penggalan teks kitab di atas penulis mengambil intisari
bahwasanya Syeikh Zakaria Ansari memberikan penekanan utama objek wakaf mesti
benda yang jelas dan mempunyai nilai manfaat yang sifatnya mubah perspektif
syariah serta tidak hilangnya ain benda sewaktu diambil manfaat,
kebolehan objek wakaf meliputi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Perihal
penting yang penulis simpulkan salah satu pengikut mazhab Imam Syafi’e ini
tidak membolehkan wakaf manfaat dikarenakan ia tidak masuk ain (benda yang
jelas). Juga beliau melarang wakaf benda bergerak yang wujud manfaatnya masuk
ketegori haram seperti alat musik. Larangan juga berlaku terhadap wakaf dirham
yang diperuntukkan untuk hiasan.
Penulis menitikberatkan perlunya kajian dan analisis
serta study terhadap pendapat para ulama-ulama lain perihal boleh atau tidaknya
dirham sebagai objek wakaf yang pemanfaatannya diwujudkan dalam bentuk
pemberian modal bersifat utang (Qardh), investasi dalam bentuk qiradh, surat
berharga dan bentuk lainnya.
Dalam Kitab Qulyubi wal ‘Umairah
(وَ) شَرْطُ (الْمَوْقُوفِ دَوَامُ الِانْتِفَاعِ بِهِ لَا
مَطْعُومٌ) بِالرَّفْعِ فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ؛ لِأَنَّ مَنْفَعَتَهُ فِي
اسْتِهْلَاكِهِ. (وَرَيْحَانٌ) فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ لِسُرْعَةِ فَسَادِهِ،
وَفِي ضِمْنِ دَوَامِ الِانْتِفَاعِ حُصُولُهُ لَكِنْ لَا يُشْتَرَطُ حُصُولُهُ
فِي الْحَالِ بَلْ يَجُوزُ وَقْفُ الْعَبْدِ وَالْجَحْشِ الصَّغِيرَيْنِ
وَالزَّمِنِ الَّذِي يُرْجَى زَوَالُ زَمَانَتِهِ.(وَيَصِحُّ وَقْفُ عَقَارٍ)
بِالْإِجْمَاعِ (وَمَنْقُولٍ) لِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى وَقْفِ الْحَصْرِ[15]
Artinya: Persyaratan objek
wakaf adalah berkekalan manfaatnya barang, maka tidak sah wakaf makanan,
dikerenakan manfaatnya hilang sewaktu dimanfaatkan. Begitu juga tidak sah wakaf
parfum dikernakan cepat hilangnya ainnya. Dan pada dhimnin yang kekal
manfaatnya boleh diwakafkan namun tidak disyaratkan menghasilkan manfaat pada
waktu itu, tetapi boleh lah mewakafkan hamba sahaya, jahsyen shaghirin dan
minyak sapi yang diharpakn hilang masanya. Dan sah lah wkaf kebun secara ijma
dan barang bergerak berdasrkan ittifaq kaum
muslimin untuk wakaf hasar.
Berdasarkan penggalan teks kitab
di atas, perihal-perihal penting yang perlu digarisbawahi adalah kriteria objek
wakaf adalah benda yang menghasilkan manfaat secara terus menerus bukan
bersifat temporal ataupun sekali pakai saja, bahkan ulama di atas memberi
penekanan bahwa semua jenis benda yang cepat hilang ainnya sewaktu dimanfaatkan
tidak sah untuk diwakafkan seperti makanan dan sejenisnya.
Penulis juga mengajak semua
teman-teman untuk mencari, menelaah dan memperkaya referensi tentang maksud “menghasilkan
manfaat secara terus menerus” terhadap benda bergerak, dengan mengajukan
pertanyaan awal berapa durasi waktunya dan kriteria apa yang harus dipenuhi dan
sebagainya.
Dalam Kitab Raudatut Thalibin
الرُّكْنُ الثَّانِي: الْمَوْقُوفُ، وَهُوَ كُلُّ عَيْنٍ مُعَيَّنَةٍ
مَمْلُوكَةٍ مِلْكًا يَقْبَلُ النَّقْلَ يَحْصُلُ مِنْهَا فَائِدَةٌ أَوْ
مَنْفَعَةٌ تُسْتَأْجَرُ لَهَا. احْتَرَزْنَا بِالْعَيْنِ حَقَّ الْمَنْفَعَةِ،
وَعَنِ الْوَقْفِ الْمُلْتَزَمِ فِي الذِّمَّةِ، وَبِالْمُعَيَّنَةِ، عَنْ وَقْفِ
أَحَدِ عَبْدَيْهِ، وَبِالْمَمْلُوكَةِ، عَمَّا لَا يُمَلَّكُ، وَبِقَبُولِ
النَّقْلِ، عَنْ أُمِّ الْوَلَدِ وَالْمَلَاهِي. وَأَرَدْنَا بِالْفَائِدَةِ:
الثَّمَرَةَ وَاللَّبَنَ وَنَحْوَهُمَا، وَبِالْمَنْفَعَةِ: السُّكْنَى
وَاللُّبْسَ وَنَحْوَهُمَا. وَقَوْلُنَا: تُسْتَأْجَرُ لَهَا، احْتِرَازٌ مِنَ
الطَّعَامِ وَنَحْوِهِ. وَنُوَضِّحُهُ بِمَسَائِلَ:
إِحْدَاهَا: يَجُوزُ وَقْفُ الْعَقَارِ وَالْمَنْقُولِ،
كَالْعَبِيدِ، وَالثِّيَابِ، وَالدَّوَابِّ، وَالسِّلَاحِ، وَالْمَصَاحِفِ،
وَالْكُتُبِ، سَوَاءٌ الْمَقْسُومُ وَالْمُشَاعِ، كَنِصْفِ دَارٍ وَنِصْفِ عَبْدٍ،
وَلَا يَسْرِي الْوَقْفُ مِنْ نِصْفٍ إِلَى نِصْفٍ[16]
Artinya: Rukun yang kedua dari
akad wakaf adalah Objek wakaf. Objek wakaf adalah semua benda yang jelas
bentuknya, dimiliki penuh oleh si wakif yang bisa dipindahkan, menghasilkan
faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Kami mendiskualifikasikan hak
manfaat, barang dalam dhimmah, wakaf budak yang belum jelas, barang yang belum
dimiliki, ummu walad, dan alat hiburan/musik.
Dan yang kami maksudkan dengan faedah adalah buah
dan susu dan yang semisal dengannya, sedangkan manfaat adalah tempat, pakaian
dan seumpanya. Dan perkataan kami mengambil sewa adalah tidak termasuk makanan
dan seumpamanya.
Salah satunya yaitu dibolehkan wakaf benda tidak
bergerak dan benda bergerak lainnya seoerti budak, pakaian,obat-obatan,
senjata, mushaf, kitab, milik umum maupun bagian tersendiri seperti sepedua
tanah pekarangan, seperdua budak, dan tidak boleh wakaf seperdua kepada
seperdua.
Berdasarkan penggalan isi kitab di
atas, penulis melihat perihal utama objek wakaf yang disampaikan oleh Imam
Nawawi adalah semua benda yang jelas bentuknya, dimiliki si wakif, bisa
dipindahkan, menghasilkan faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Beliau
tidak membolehkan wakaf manfaat karena dianggap tidak masuk ketegori ain.
Sedangkan mengenai “manfat atau faedah” beliau tidak mensyaratkan harus
berkekalan secara terus menerus, hal ini menurut penulis mengisyarahkan
kebolehan wakaf benda bergerak yang sifatnya temporal seperti contoh di atas
yaitu “kami maksud dengan faedah adalah buah-buahan dan susu.”
Dalam
Kitab Mughni Muhtaj
(وَ) شَرْطُ
(الْمَوْقُوفِ) مَعَ كَوْنِهِ عَيْنًا مُعَيَّنَةً مَمْلُوكَةً مِلْكًا يَقْبَلُ
النَّقْلَ وَيَحْصُلُ مِنْهَا فَائِدَةٌ أَوْ مَنْفَعَةٌ يَسْتَأْجِرُ لَهَا (دَوَامُ
الِانْتِفَاعِ بِهِ) انْتِفَاعًا مُبَاحًا مَقْصُودًا، فَخَرَجَ بِالْعَيْنِ
الْمَنْفَعَةُ.
وَالْمُرَادُ
بِالْفَائِدَةِ اللَّبَنُ وَالثَّمَرَةُ وَنَحْوُهُمَا، وَبِالْمَنْفَعَةِ
السُّكْنَى وَاللُّبْسُ وَنَحْوُهُمَا وَبِيَسْتَأْجِرُ لَهَا وَبِدَوَامِ
الِانْتِفَاعِ الطَّعَامُ وَنَحْوُهُ كَمَا سَيَأْتِي، وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ
وَقْفُ الْفَحْلِ لِلضِّرَابِ فَإِنَّهُ جَائِزٌ وَلَا تَجُوزُ إجَارَتُهُ، وَمِنْ
دَوَامِ الِانْتِفَاعِ الْمُدَبَّرُ وَالْمُعَلَّقُ عِتْقُهُ بِصِفَةٍ فَإِنَّهُ
يَصِحُّ وَقْفُهُمَا مَعَ أَنَّهُ لَا يَدُومُ النَّفْعُ بِهِمَا؛ لِأَنَّهُمَا
يُعْتَقَانِ بِمَوْتِ السَّيِّدِ وَوُجُودِ الصِّفَةِ وَيَبْطُلُ الْوَقْفُ.
وَبِمُبَاحًا وَقْفُ آلَاتِ الْمَلَاهِي فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهَا، وَإِنْ كَانَ
فِيهَا مَنْفَعَةٌ قَائِمَةٌ، لِأَنَّهَا غَيْرُ مُبَاحَةٍ، وَبِمَقْصُودًا
وَقْفُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ لِلتَّزْيِينِ فَإِنَّهُ لَا يَصِحُّ عَلَى
الْأَصَحِّ الْمَنْصُوصِ[17]
(وَيَصِحُّ وَقْفُ عَقَارٍ) مِنْ أَرْضٍ أَوْ دَار بِالْإِجْمَاعِ
(وَ) وَقْفُ (مَنْقُولٍ) كَعَبْدٍ وَثَوْبٍ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ - «وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا فَإِنَّهُ
احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْبُدَهُ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي
هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، وَأَعْبُدَهُ رَوَاهُ
الْمُتَوَلِّي بِالْبَاءِ الْمُوَحَّدَةِ جَمْعُ عَبْدٍ.
(وَ) وَقْفُ (مُشَاعٍ) مِنْ عَقَارٍ أَوْ مَنْقُولٍ؛ لِأَنَّ
عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – وَقَفَ مِائَةَ سَهْمٍ مِنْ خَيْبَرَ
مُشَاعًا، رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ،[18]
Senada dengan Imam Nawawi di
atas, Syeikh Muhammad juga memberikan penjelasan yang hampir sama bahwasanya
objek wakaf merupakan semua benda
yang jelas bentuknya, dimiliki si wakif, bisa dipindahkan, menghasilkan
faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Beliau tidak membolehkan wakaf
manfaat karena dianggap tidak masuk ketegori ain, namun beliau memberikan
penekanan bahwa objek wakaf mestilah benda yang memberikan manfaat secara terus
menerus dan bersifat mubah. Dan secara gamblang beliau menegaskan
ketidakabsahan alat musik dikarenakan keluar dari kontek manfaat yang mubah,
sedangkan wakaf dinar ataupun dirham yang dimaksudkan untuk hiasan semata, tidak
sah dilakukan.
Berdasarkan teks di atas juga,
penulis mengusulkan perlunya kajian dan
analisis serta study terhadap pendapat para ulama-ulama lain perihal boleh atau
tidaknya dirham sebagai objek wakaf yang pemanfaatannya diwujudkan dalam bentuk
lain seperti dikemukakan di atas.
4. Menurut Ulama Mazhab Hambaliah
Ibnu Qudamah Dalam Kitabnya Al-Mughni
مَسْأَلَةٌ؛
قَالَ: (وَيَصِحُّ الْوَقْفُ فِيمَا عَدَا ذَلِكَ) وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ
الَّذِي يَجُوزُ وَقْفُهُ، مَا جَازَ بَيْعُهُ، وَجَازَ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ
بَقَاءِ عَيْنِهِ، وَكَانَ أَصْلًا يَبْقَى بَقَاءً مُتَّصِلًا، كَالْعَقَارِ، وَالْحَيَوَانَاتِ،
وَالسِّلَاحِ، وَالْأَثَاثِ، وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ. قَالَ أَحْمَدُ، فِي رِوَايَةِ
الْأَثْرَمِ: إنَّمَا الْوَقْفُ فِي الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ، عَلَى مَا وَقَفَ
أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَقَالَ فِي
مَنْ وَقَفَ خَمْسَ نَخَلَاتٍ عَلَى مَسْجِدٍ: لَا بَأْسَ بِهِ. وَهَذَا قَوْلُ
الشَّافِعِيِّ[19]
Artinya: dan sah lah wakaf
semua barang yang boleh diperjual belikan serta kekal ainnya sewaktu
dimanfaatkan. Kekal ain adalah yang bersifat terus menerus bukan temporal
seperti benda tidak bergerak, hewan, pedang, bangunan dan sejenisnya. Dalam
riwayat asram Imam ahmad berkata bahwasanya wakaf hanya sah dilakukan pada
bangunan serta tanahnya, hal tersebut berdasarkan objek wakaf sahabat
Rasulullan saw, yaitu Nabi SAW bersabda terhadap orang-orang yang mewakafkan
nakhlat untuk menjid, nabi menjawab boleh, dan ini merupakn pendapat imam syafi’e.
Dalam kitab Al-Kafi Fii Fiqhi Imam Ahmad
ولا
يصح وقف ما لا ينتفع به مع بقاء عينه، كالأثمان، والمأكول والمشروب، والشمع؛ لأنه
لا يحصل تسبيل ثمرته مع بقائه، ولا ما يسرع إليه الفساد، كالرياحين؛ لأنها لا
تتباقى، ولا ما لا يجوز بيعه: كالكلب، والخنزير، ولا المرهون، والحمل[20]
Artinya: Dan Tidak sah wakaf barang/benda yang tidak
bisa diambil manfaat serta tidak kekal ainnya seperti asman, makanan, minuman, lilin,
dikerenakan barang tersebut tidak menghasilkan jalan mengambil manfaat serta
kekal ainnya. Dan tidak sah wakaf juga barang yang cepat rusak seperti perfum
dikarenakan tidak kekal ainnya. Dan tidak sah wakaf juga semua barang yang
tidak boleh diperjualbelikan seperti anjing, babi, objek gadai, barang
tanggungan.
Berkenaan dengan teks kitab di atas penulis mengambil
intisari bahwasanya penekanan utama objek wakaf perspektif ulama mazhab
hambaliah adalah semua benda yang menghasilkan manfaat serta kekal ainnya dan
beliau mendiskualifikasikan benda-benda yang cepat hilang ainnya sewaktu
dimanfaatkan dan benda-benda yang tidak sah diperjualbelikan.
Dalam kitab Al-Hidayah ‘Ala Mazahibil
Ahmad
والوَقْفُ مُسْتَحَبٌّ، ولا يَصِحُّ إلاَّ مِمَّنْ
يَصِحُّ تَصَرُّفُهُ، ويَصِحُّ في كُلِّ مال عَيْنٍ يَصِحُّ الانْتِفَاعُ بِهَا
مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهَا دَائِماً كالعَقَارِ والأثَاثِ والحَيَوَانِ والسِّلاحِ،
فأمَّا الوَقْفُ في الذِّمَّةِ نَحْوَ قَوْلِهِ: وَقَفْتُ دَاراً أو عَبْداً فَلاَ
يَصِحُّ، وَكَذَلِكَ وَقْفُ مَا لَيْسَ بِمَالٍ كَالكَلْبِ وأُمِّ الوَلَدِ لا
يَصِحُّ، وأمَّا وَقْفُ ما لاَ يُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كالطَّعَامِ
والأثْمَانِ مِمَّا لا يَبْقَى عَلَى الدَّوَامِ كالمَشْمُومِ فَلا يَجُوزُ. وأمَّا
وَقْفُ الحِلِيِّ عَلَى الإعَارَةِ واللِّبْسِ فَجَائِزٌ عَلَى ظَاهِرِ[21]
Artinya:Wakaf merupakan
perbuatan sunat, ia hanya sah dilakukan oleh orang-orang yang sah tasharrufnya.
Semua jenis harta yang nyata, bisa diambil manfaat serta tetap kekal ainnya
dalam waktu yang lama sah untuk diwakafkan, seperti benda tidak bergerak,
bangunan, hewan dan pedang. Adapun mewakafkan barang dalam dhimmah tidak sah
dilakukan seperti pekarangan ataupun budak, demikian juga benda yang tidak
masuk kategori harta seperti anjing dan ummu walad. Dan tidak diperbolehkan
juga untuk mewakafkan barang-barang yang hilang ainnya pada saat dimanfaatkan
seperti asman dan makanan, juga barang-barang yang tidak bisa dimanfaatkan
secara berkekalan seperti rumputan. Dan adapun mewakafkan perhiasan dengan cara
dipinjamkan dan untuk dipakai dibolehkan berdasarkan pendapat yang dhahir.
Dalam penggalan teks kitab di atas,
pengarang kitab Hidayah mempunyai perspektif yang sama dengan penulis alkafi mengenai
kriteria objek wakaf, beliau hanya menambahkan bahwa wakif mestilah orang yang
sah tasharrufnya. Sedangkan isu terpenting yang penulis anggap perlu pengkajian
lebih lanjut adalah perihal kebolehan wakaf perhiasan yang diperuntukkan untuk
dipinjamkan dan dipakai, di mana perihal manfaat disini dalam bentuk “dipakai”
hampir semakna dengan “hiasan” merupakan bentuk manfaat yang dilarang oleh
ulama Syafi’iyah.
F.
Penutup
Perihal objek wakaf, para ulama telah
sepakat mengenai keabsahan wakaf benda tidak bergerak seperti tanah dan
bangunan, namun para ulama masih berbeda pendapat perihal benda bergerak,
jumhur ulama sepakat syarat utama pada benda bergerak adalah mempunyai manfaat
mubah yang sifatnya bisa dimanfaatkan secara terus menerus dengan tidak
menghilangkan ainnya, sedangkan pada benda bergerak yang hanya bisa
dimanfaatkan secara temporal para ulama juga berbeda pendapat. Dasar pijakan
utama tentang wakaf benda tidak bergerak adalah dalil yang sudah jelas
legalitasnya yaitu hadis tentang wakaf tanah khaibar yang dilakukan oleh Umar
ra, sedangkan keabsahan wakaf benda bergerak adalah wakaf kuda yang dilakukan
oleh khalid dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah. Kebanyakan para
ulama menganalisis hadis tersebut secara mendalam dalam usahanya menentukan
jenis-jenis benda yang boleh diwakafkan, namun ulama mazhab hanafi menambahkan
bahwa uruf dan kebutuhan umat bisa dijadikan sebagai metode menetukan objek
wakaf.
[1]Ibnu Hajar Asqalani, Bulughul Maram, Pada Bab Waqaf, Online http://islamic-defenders.blogspot.co.id/2012/07/bulughul-maram-bab-waqaf.html.
[2]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa
Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid
ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal 269.
[3] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah:Terj Abdurrahim
dan Masrukhin; Penyunting: Masrukhin, Jil 5, cet ke 2 (Jakarta: Cakrawala
Publishing, 2009) hal. 532.
[4]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa
Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid
ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal 269-272.
[5]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa
Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid
ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal.275
[6]Ibnu Hajar Asqalani, Bulughul Maram, Pada Bab Waqaf, Online http://islamic-defenders.blogspot.co.id/2012/07/bulughul-maram-bab-waqaf.html
[7]Ahmad Zain An-Najah, HukumWakafTunai, online pada https://www.ahmadzain.com/read/ilmu/420/hukum-wakaf-tunai/.
[13]Muhammad bin Ahmad bin ‘Urfah Dusuqy Al-Maliki, Hasyiah
Dusuqy ‘Ala Syarhi Kabir, Jil 4, (Maktabah Syamilah 11 GB: DarulFikr, 1230
H), hal. 75-76.
[14]Zakaria bin Muhammad bin Ahmad Zakaria Ansary, Fathul
Wahab Bi Syarhi Minhajuj Thullab, jil 1 (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul
Fikr,1994 M/1414 H), hal 306
[15]Ahmad Salamah Al-Qulyubi dan Ahmad Albarlisi
‘Umairah, Hasyiata Qulyubi Wal ‘Umairah Jil, 3 (Maktabah Syamilah 11 GB:
Darul Fikri Beirut, 1995), hal, 99
[16]Abu Zakaria Mahyiddin Yahya Bin Syarif An-Nawawi, Raudhatut
Thalibin Wa ‘Undatul Muftin, Jil 5, (Maktabah Syamilah 11 GB: Maktab
Islami, 1991), hal 314
[17]Syamsuddin Muhammad bin Ahmad alkhatib Syarbaini
As-Syafi’e, Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifatil Ma’ani Alfadhil Minhaj, Jil
3 (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Kitab Ilmiah,1994 H), hal. 524
[18]Syamsuddin Muhammad bin Ahmad alkhatib Syarbaini
As-Syafi’e, Mughni al-Muhtaj,...hal. 525
[19]Abu Muhammad Muwafiquddin Abdullah bin Ahmad bin
Muhammad Qudamah Jama’ili al maqdisy, Muqhni Ibnu Qudamah, Jil, 6, (Maktabah
Syamilah 11 GB: Maktabah Syahirah, 1968), hal. 36
[20]Abu Muhammad Muwafiquddin Abdullah bin Ahmad bin
Muhammad Qudamah Jama’ili al maqdisy, Al-Kafi Fii Fiqhi Imam Ahmad, Jil,
2, (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Kitab Ilmiah, 1994), hal, 250
[21]Mahfud bin Ahmad bin Husain, Al-hidayah
‘AlaMazahibil Ahmad Al-Syaibani, Jil. 1 (Maktabah Syamilah 11 GB: MuassasahGharsi, 2004),
hal. 334
Komentar
Posting Komentar