OBJEK WAKAF PERSPEKTIF FIQH


OBJEK WAKAF PERSPEKTIF FIQH 

Rahmad

Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah (Mu’amalah) STIS PTI Al-Hilal Sigli
Jalan Lingkar Keuniree, Sigli Provinsi Aceh
Email: rahmadsigli@gmail.com

A.     Pendahuluan
Islam menuntun umatnya untuk membina hubungan baik dengan Allah swt sebagai Pencipta dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dalam rangka menciptakan kemakmuran dan kemaslahatan. Salah satu wujud menjaga hubungan baik ialah dalam bentuk meningkatnya kepedulian sesama yang diaktualisasikan adakalanya dengan bersedakah, berinfaq dan adakalanya juga dengan wakaf. Mewakafkan harta merupakan anjuran dalam Islam sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 92 :
لَن تَنَالُواْ البر حتى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىْء فَإِنَّ الله بِهِ عَلِيمٌ
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Selain anjuran di atas, wakaf juga merupakan suatu amalan  investasi abadi dalam artian sebagai shadaqah jariah, yaitu  pemberian yang pahalanya akan terus mengalir walaupun si pemberi telah meninggal dunia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari  Abu Hurairah yang berbunyi :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم)
Artinya: Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh yang mendoakannya (HR Muslim)[1]

Melihat kepada anjuran di atas kaum muslimin di seluruh penjuru dunia semestinya berlomba-lomba untuk menginfaqkan harta bendanya khususnya dalam bentuk wakaf, secara materi manusia yang melakukan ibadah wakaf memang tidak menuai hasil keuntungan dalam bentuk materi, Namun keuntungan inmateri bisa dirasakan secara langsung baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Semangat mewakafkan harta benda pada jalan Allah SWT sedikit mengalami kendala bahkan menimbulkan kebingungan di kalangan para dermawan, permasalahannya terletak pada objek wakaf itu sendiri, kebanyakan ulama terdahulu berkesimpulan objek wakaf terbatas pada benda tidak bergerak yang kekal ainnnya seperti tanah, lahan perkebun dan pertanian serta bangunan, hal ini dikarenakan mayoritas orang kaya dan mampu saat itu memiliki kekayaan dalam bentuk aktiva tetap seperti tanah dan bangunan, sedangkan dewasa ini para dermawan mempunyai kekayaan dalam bentuk aktiva tetap dan tidak tetap seperti Uang, Saham, dan surat berharga lainnya. Maka oleh sebab itu dalam makalah ini akan dipaparkan bagaimana para ulama menguraikan perihal tersebut berlandaskan Al-Quran dan Hadist dengan memberikan penjelasan yang memadai.

B.     Pengertian Wakaf
Secara bahasa, kata wakaf berasal dari bahasa Arab yaitu, وقف - يقف - وقف yang berarti menahan untuk berbuat, membelanjakan.[2] Dikatakann  وقف - يقف وقف maksudnyaحبس- يحبس- حبس  yang bermakna menahan.[3]Sedangkan menurut istilah ada beberapa definisi wakaf, diantaranya:[4]
1.      Menurut golongan ulama Hanafiah
حَبْسُ العَيْنِ عَلَى المِلْكِ الوَاقِفِ وَالتَّصَدُّقِ بِمَنْفَعَتِهَا.
Menahan benda yang statusnya tetap milik si wakif (orang yang mewakafkan) dan yang disedekahka nadalah manfaatnya saja.
2.      Menurut golongan Malikiah
جَعْلُ مَنْفَعَةٍ مَمْلُوْكٍ وَلَوْ بِأُجْرَةٍ اَوْغُلَّةٍ لِمُسْتَحِقٍّ بِصِيغَةِ مُدَّةٍ مَايَرَاهُ المُحْبِسُ.
Menjadikan manfaat benda yang dimiliki, baik berupa sewa atau hasilnya untuk diserahkan kepada orang yang berhak, dengan bentuk penyerahan berjangka waktu sesuai denang apa yang dikehendaki oleh orang yang mewakafkan.
3.      Menurut golongan Syafi’iah
حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ الاِنْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِى رَقَبَتِهِ علَى مَصْرَفٍ مُبَاحٍ
Menahanharta yang dapat diambil manfaatnya dengan tetap utuhnya barang, dan barang itu lepas dari penguasaan si wakif serta dimanfaatkan pada suatu yang diperbolehkan oleh agama.

C.  Rukun Dan Syarat Wakaf
Menurut Jumhur Ulama Rukun waqaf terdiri dari empat yaitu:
1.    Ada orang yang berwakaf (Wakif).
2.    Ada sesuatu atau harta yang akan diwakafkan (Mauquf).
3.    Ada tempat diwakafkan harta itu /Penerima Manfaat Waqaf (Mauqufalaih).
4.    Ada Sighat (Ijab Si Wakif) [5]

D. Dalil-dalil Tentang Wakaf
1.    Dalil Al-Quran
Pertama, Al-Quran surat Ali-Imran ayat 92 sebagai berikut:
لَن تَنَالُواْ البر حتى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَىْء فَإِنَّ الله بِهِ عَلِيمٌ
Artinya: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamucintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya
Kedua, Al-quran surat Al-Baqarah ayat 261 sebagai berikut:
ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y Ÿ@Î/$uZy Îû Èe@ä. 7's#ç7/Yß èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o 3 ª!$#ur ììźur íOŠÎ=tæ ÇËÏÊÈ   tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムöNßgs9ºuqøBr& Îû È@Î6y «!$# §NèO Ÿw tbqãèÎ7÷Gム!$tB (#qà)xÿRr& $xYtB Iwur ]Œr&   öNçl°; öNèdãô_r& yYÏã öNÎgÎn/u Ÿwur ì$öqyz óOÎgøŠn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRtóstƒ
Arinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagisiapa yang Diakehendaki.dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagiMahamengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
2.      Al-Hadis
Landasan doctrinal tentang wakaf yang disepakati para ulama adalah beberapa Hadist berikut ini:
Pertama, Hadist Umar tentang tanah Khaibar, yaitu Hadist dari Ibn Umar RA, yaitu perintah Nabi kepada Umar untuk mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ أَخْبَرَنَا سُلَيْمُ بْنُ أَخْضَرَ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أَصَابَ عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَاقَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَلَا يُوهَبُ وَلَا يُورَثُ وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ.[6]
Artinya:  Dari Ibn Umar berkata: Umar memperoleh tanah di Khaibar lalu ia pergi menghadap Nabi saw untuk mendapat perintah atas hartanya tersebut. Ketika telah menghadap Nabi ia mengatakan: Wahai Rasulullah, aku memperoleh tanah di Khaibar,  Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu, apa perintahmu untukku atas harta tersebut? Nabi menjawab: "apabila engkau mau, 'tahanlah' asalnya dan sedekahkan hasilnyaIbnu Umar berkata, “Maka bersedekahlah Umar dengan buahnya, dan batang pohon itu tidak dijual, dihadiahkan, dan diwariskan. Dan Umar bersedekah dengannya kepada orang-orang  fakir, para kerabat,  para budak, orang-orang  yang berjuang di jalan Allah, Ibnu Sabil , dan para tamu.  Pengurusnya boleh memakan dari hasilnya dengan cara yang makruf, dan memberikannya kepada temannya tanpa meminta harganya [HR. Imam Bukharidan Muslim].

Kedua, Hadits Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra:
أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ فَقِيلَ مَنَعَ ابْنُ جَمِيلٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا قَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: Rasulullah saw telah memerintahkan para shahabat untuk membayar  zakat. Lalu, dikatakan bahwasanya Ibnu Jamil, Khalid bin Walid, dan ‘Abbas bin ‘Abdul Muthalibra menolak membayar zakat.  Nabi saw pun bersabda, “Tidaklah Ibnu Jamil menolak (membayar zakat) kecuali karena ia adalah fakir.  Lalu, Allah swt dan RasulNya mengayakandirinya.  Adapun Khalid; sesungguhnya kalian telah mendzalimi Khalid.  Sungguh, Khalid telah menahan (mewaqafkan) baju besinya, dan menyediakannya untuk Jalan Allah.

E.  Objek Wakaf Menurut Fiqh
            Objek Wakaf yang disetujui jumhur ulama terdiri dari dua bentuk, Pertama benda tidak bergerak (Ghairu Manqul) dan Kedua, benda bergerak (Manqul). Pada kedua objek tersebut terikat dengan syarat-syarat yang telah disebutkan di atas yaitu objek wakaf merupakan benda bernilai dan bermanfaat, milik tam si wakif, bisa diseraterimakan dan jelas keberadaannya. Para ulama telah menetapkan salah satu syarat terpenting dalam harta yang diwakafkan harus bersifat tetap (tsabit), yaitu barang tersebut bisa dimanfaatkan tanpa merubah bentuknya. Barang tetap  (tsabit) ini terbagi menjadi dua; pertama: benda tidak bergerak (ghairu al-manqul),seperti tanah dan bangunan, kedua: benda bergerak (al-manqul).[7]
Jumhur ulama fuqaha menegaskan kebolehan wakaf benda-benda bergerak dengan penegasannya sebagai berikut:
ذهب جمهور الفقهاء من الشّافعيّة والحنابلة ، وهو المعتمد عند المالكيّة وزفر من الحنفيّة إلى جواز وقف المنقول ، كوقف فرسٍ على الغزاة وسلاح وغيرهما ، لحديث أبي هريرة رضي الله تعالى عنه : « من احتبس فرساً في سبيل اللّه إيماناً باللّه وتصديقاً بوعده فإنّ شِبَعَه ورَيَّه وروثه وبوله في ميزانه يوم القيامة » ، ولقوله صلى الله عليه وسلم : « وأمّا خالد فإنّكم تظلمون خالداً ، فإنّه احتبس أدراعه وأعتده في سبيل اللّه »[8]
            Jumhur ulama fuqaha yang terdiri dari Ulama Syafi’iyah, Hanabilah, Malikiah dan Imam Zufar dari kalangan Ulama Hanafiah membolehkan wakaf benda bergerak berdasarkan hadis tentang wakaf kuda pada riwayat Abu Hurairah di atas dan tentang wakaf baju besi yang dilakukan Khalid dalam hadis kedua di atas, bahkan ulama Malikiah berpendapat kebolehan wakaf benda bergerak merupakan pendapat muktamad mazhabnya.

1.    Menurut Ulama Hanafiah
                     Mengenai dengan objek wakaf benda yang bergerak, ulama Hanafiah mengemukakan:
وتفصيل مذهب الحنفية في ذلك أن مقتضى قول أبي حنيفة وأبي يوسف عدم جواز وقف النقود ، لأنه لا يجوز وقف المنقولات أصلا عندهما[9]
وفي القياس عند الحنفيّة لا يجوز وقف المنقول لأنّ شرط الوقف التّأبيد والمنقول لا يتأبّد فترك القياس للآثار الّتي وردت فيه[10]
            Pada dasarnya Imam Hanafi sendiri serta salah satu muridnya Abu Yusuf tidak membolehkan wakaf benda bergerak, karena benda tersebut tidak memenuhi unsur ta’bid yakni berkekalan ainnya. Namun Abu Yusuf membolehkannya apabila benda bergerak tersebut mengikuti benda tidak bergerak, hal ini berdasarkan konsep istihsan sebagai terdapat pada teks berikut ini:
وقال أبو يوسف ومحمّد : يجوز وقف المنقول تبعاً للأرض وذلك استحساناً ؛ لأنّه قد يثبت من الحكم تبعاً ما لا يثبت مقصوداً ، كما إذا وقف ضيعةً ببقرها وأكرتها ، وكذلك سائر آلات الحراثة لأنّها تبع للأرض في تحصيل ما هو المقصود ، وكذا وقف السّلاح والخيل يجوز استحساناً .
وأمّا وقف المنقول قصداً فلا يجوز عند أبي حنيفة وأبي يوسف ، ويجوز عند محمّد إذا كان متعارفاً بين النّاس ؛ لأنّ التّعامل بين النّاس يترك به القياس ، لقول ابن مسعود : ما رأى المسلمون حسناً فهو عند اللّه حسن[11]
            Sedangkan salah satu murid Imam Hanafi yang lainnya yaitu Muhammad Alsyalbaini membolehkan wakaf benda bergerak bukan hanya berdasarkan konsep istihsan,namun kebolehan wakaf benda bergerak karena berlaku adat di sebuah tempat, hal ini bisa dilihat dengan pengasannya sebagai berikut:
وقول محمد أنه لا يجوز وقف المنقولات لكن إن جرى التعامل بوقف شيء من المنقولات جاز وقفه . قال في الاختيار والفتوى على قول محمد لحاجة الناس وتعاملهم بذلك ، كالمصاحف والكتب والسلاح .
وبناء على ذلك ، فحين جرى التعامل في العصور اللاحقة بوقف النقود وجدت الفتوى بدخول النقود تحت قول محمد بجواز وقف ما جرى التعامل بوقفه . قال في الدر المختار بل ورد الأمر للقضاة بالحكم به كما في معروضات أبي السعود[12]
Dengan melihat pernyataan beliau di atas pada dasarnya Muhammad Alsyalbaini juga tidak membolehkan wakaf benda-benda bergerak kecuali benda-benda bergerak tersebut sudah menjadi tradisi adat di sebuah tempat  bahwa benda tersebut diwakafkan karena dilandasi sebuah kebutuhan seperti mushaf, buku dan senjata.
            Dari uraian di atas mengenai dinamika pendapat ulama tentang kebolehan wakaf benda bergerak, penulis tertarik dengan pernyataan salah seorang ulama mazhab Hanafi yakni Imam Muhammad Alsyalbaini tentang kebolehan wakaf benda bergerak yang tidak hanya berdasarkan kedua hadis di atas dan juga bukan karena benda bergerak tersebut mengikuti benda tidak bergerak, tetapi kebolehan Wakaf benda bergerak dikarenakan sudah menjadi tradisi sebuah tempat dan diwakafkan karena kebutuhan bahwa benda bergerak tersebut diwakafkan (قال في الاختيار والفتوى على قول محمد لحاجة الناس وتعاملهم بذلك، كالمصاحف والكتب والسلاح). Maka dari pernyataan tersebut penulis menyimpulkan bahwasanya dengan melihat pernyataan Imam Muhammad Alsyalbaini memungkinkan untuk diqiaskan kebolehan wakaf benda-benda bergerak lainnya yang statusnya merupakan sebuah kebutuhan umat seperti Uang dan lainnya.

2.    Menurut Ulama Mazhab Maliki
          Dalam kitab Hasyiah Dusuqy ‘Ala Syarhi Kabir:
وَأَرَادَ بِالْمَمْلُوكِ مَا يَشْمَلُ مِلْكَ الذَّاتِ وَمِلْكَ الْمَنْفَعَةِ فَلِذَا قَالَ (وَإِنْ) كَانَ الْمِلْكُ الْمَدْلُولُ عَلَيْهِ بِمَمْلُوكٍ (بِأُجْرَةٍ) لِكَدَارٍ اسْتَأْجَرَهَا مُدَّةً مَعْلُومَةً فَلَهُ وَقْفُ مَنْفَعَتِهَا فِي تِلْكَ الْمُدَّةِ وَيَنْقَضِي الْوَقْفُ بِانْقِضَائِهَا؛ لِأَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِيهِ التَّأْبِيدُ كَمَا سَيَأْتِي وَشَمِلَ قَوْلُهُ بِأُجْرَةٍ مَنْ اسْتَأْجَرَ دَارًا مُحَبَّسَةً مُدَّةً فَلَهُ تَحْبِيسُ مَنْفَعَتِهَا عَلَى مُسْتَحِقٍّ آخَرَ غَيْرِ الْمُسْتَحِقِّ الْأَوَّلِ فِي تِلْكَ الْمُدَّةِ وَأَمَّا الْمُحَبَّسُ عَلَيْهِ فَلَيْسَ لَهُ تَحْبِيسُ الْمَنْفَعَةِ الَّتِي يَسْتَحِقُّهَا لِأَنَّ الْحَبْسَ لَا يُحَبَّسُ (وَلَوْ) كَانَ الْمَمْلُوكُ (حَيَوَانًا وَرَقِيقًا) مِنْ عَطْفِ الْخَاصِّ عَلَى الْعَامِّ أَيْ فَيَصِحُّ وَقْفُهُ وَيَلْزَمُ[13]

Berdasarkan penggalan teks di atas penulis memahami bahwasanya ulama mazhab malikiah memberikan penekanan utama objek wakaf adalah harta yang dimiliki oleh si wakif baik kepemilikan dalam bentuk benda maupun manfaat, wakaf manfaat dimplementasikan dalam bentuk menyewakan benda tersebut dalam waktu tertentu dan menjadikan manfaatnya (Ujrah) sebagai objek wakaf, kebolehan ini dilandasi alasan di kalangan ulama malikiah yang tidak mensyaratkan ta’bid dalam wakaf.

3.    Menurut Ulama Mazhab Syafi’iyah.
                    Dalam Kitab Fathul Wahab
وَ " شَرْطٌ " فِي الْمَوْقُوفِ كَوْنُهُ عَيْنًا مُعَيَّنَةً " وَلَوْ مَغْصُوبَةً أَوْ غَيْرَ مَرْئِيَّةٍ " مَمْلُوكَةً " لِلْوَاقِفِ نَعَمْ يَصِحُّ وَقْفُ الْإِمَامِ مِنْ بَيْتِ الْمَالِ "تُنْقَلُ" أَيْ تَقْبَلُ النَّقْلَ مِنْ مِلْكِ شَخْصٍ إلَى مِلْكِ آخَرَ " وَتُفِيدُ لَا بِفَوْتِهَا نَفْعًا مباحا مقصودا " هما من زيادتي وسواء كان النَّفْعُ فِي الْحَالِ أَمْ لَا كَوَقْفِ عَبْدٍ وجحش صغيرين وسواء أكان عقارا أَمْ مَنْقُولًا " كَمُشَاعٍ
فَلَا يَصِحُّ وَقْفُ مَنْفَعَةٍ لِأَنَّهَا لَيْسَتْ بِعَيْنٍ وَلَا مَا فِي الذِّمَّةِ وَلَا أَحَدِ عبديه لعدم تعينهما ولا مالا يُمْلَكُ لِلْوَاقِفِ كَمُكْتَرًى وَمُوصًى بِمَنْفَعَتِهِ لَهُ وَحُرٍّ وَكَلْبٍ وَلَوْ مُعَلَّمًا وَلَا مُسْتَوْلَدَةٍ وَمُكَاتَبٍ لِأَنَّهُمَا لَا يَقْبَلَانِ النَّقْلَ وَلَا آلَةِ لَهْوٍ وَلَا دَرَاهِمَ لِلزِّينَةِ لِأَنَّ آلَةَ اللَّهْوِ مُحَرَّمَةٌ وَالزِّينَةَ غير مقصودة ولا مالا يُفِيدُ نَفْعًا كَزَمِنٍ لَا يُرْجَى بُرْؤُهُ وَلَا مالا يُفِيدُ إلَّا بِفَوْتِهِ كَطَعَامٍ وَرَيْحَانٍ غَيْرِ مَزْرُوعٍ لِأَنَّ نَفْعَهُ فِي فَوْتِهِ وَمَقْصُودُ الْوَقْفِ الدَّوَامُ بِخِلَافِ مَا يَدُومُ كَمِسْكٍ وَعَنْبَرٍ وَرَيْحَانٍ مَزْرُوعٍ.[14]

Penggalan teks kitab di atas penulis mengambil intisari bahwasanya Syeikh Zakaria Ansari memberikan penekanan utama objek wakaf mesti benda yang jelas dan mempunyai nilai manfaat yang sifatnya mubah perspektif syariah serta tidak hilangnya ain benda sewaktu diambil manfaat, kebolehan objek wakaf meliputi benda tidak bergerak dan benda bergerak. Perihal penting yang penulis simpulkan salah satu pengikut mazhab Imam Syafi’e ini tidak membolehkan wakaf manfaat dikarenakan ia tidak masuk ain (benda yang jelas). Juga beliau melarang wakaf benda bergerak yang wujud manfaatnya masuk ketegori haram seperti alat musik. Larangan juga berlaku terhadap wakaf dirham yang diperuntukkan untuk hiasan.
Penulis menitikberatkan perlunya kajian dan analisis serta study terhadap pendapat para ulama-ulama lain perihal boleh atau tidaknya dirham sebagai objek wakaf yang pemanfaatannya diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bersifat utang (Qardh), investasi dalam bentuk qiradh, surat berharga dan bentuk lainnya.

Dalam Kitab Qulyubi wal ‘Umairah
(وَ) شَرْطُ (الْمَوْقُوفِ دَوَامُ الِانْتِفَاعِ بِهِ لَا مَطْعُومٌ) بِالرَّفْعِ فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ؛ لِأَنَّ مَنْفَعَتَهُ فِي اسْتِهْلَاكِهِ. (وَرَيْحَانٌ) فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهُ لِسُرْعَةِ فَسَادِهِ، وَفِي ضِمْنِ دَوَامِ الِانْتِفَاعِ حُصُولُهُ لَكِنْ لَا يُشْتَرَطُ حُصُولُهُ فِي الْحَالِ بَلْ يَجُوزُ وَقْفُ الْعَبْدِ وَالْجَحْشِ الصَّغِيرَيْنِ وَالزَّمِنِ الَّذِي يُرْجَى زَوَالُ زَمَانَتِهِ.(وَيَصِحُّ وَقْفُ عَقَارٍ) بِالْإِجْمَاعِ (وَمَنْقُولٍ) لِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى وَقْفِ الْحَصْرِ[15]
Artinya: Persyaratan objek wakaf adalah berkekalan manfaatnya barang, maka tidak sah wakaf makanan, dikerenakan manfaatnya hilang sewaktu dimanfaatkan. Begitu juga tidak sah wakaf parfum dikernakan cepat hilangnya ainnya. Dan pada dhimnin yang kekal manfaatnya boleh diwakafkan namun tidak disyaratkan menghasilkan manfaat pada waktu itu, tetapi boleh lah mewakafkan hamba sahaya, jahsyen shaghirin dan minyak sapi yang diharpakn hilang masanya. Dan sah lah wkaf kebun secara ijma dan barang  bergerak berdasrkan ittifaq kaum muslimin untuk wakaf hasar.

Berdasarkan penggalan teks kitab di atas, perihal-perihal penting yang perlu digarisbawahi adalah kriteria objek wakaf adalah benda yang menghasilkan manfaat secara terus menerus bukan bersifat temporal ataupun sekali pakai saja, bahkan ulama di atas memberi penekanan bahwa semua jenis benda yang cepat hilang ainnya sewaktu dimanfaatkan tidak sah untuk diwakafkan seperti makanan dan sejenisnya.
Penulis juga mengajak semua teman-teman untuk mencari, menelaah dan memperkaya referensi tentang maksud “menghasilkan manfaat secara terus menerus” terhadap benda bergerak, dengan mengajukan pertanyaan awal berapa durasi waktunya dan kriteria apa yang harus dipenuhi dan sebagainya.

Dalam Kitab Raudatut Thalibin
الرُّكْنُ الثَّانِي: الْمَوْقُوفُ، وَهُوَ كُلُّ عَيْنٍ مُعَيَّنَةٍ مَمْلُوكَةٍ مِلْكًا يَقْبَلُ النَّقْلَ يَحْصُلُ مِنْهَا فَائِدَةٌ أَوْ مَنْفَعَةٌ تُسْتَأْجَرُ لَهَا. احْتَرَزْنَا بِالْعَيْنِ حَقَّ الْمَنْفَعَةِ، وَعَنِ الْوَقْفِ الْمُلْتَزَمِ فِي الذِّمَّةِ، وَبِالْمُعَيَّنَةِ، عَنْ وَقْفِ أَحَدِ عَبْدَيْهِ، وَبِالْمَمْلُوكَةِ، عَمَّا لَا يُمَلَّكُ، وَبِقَبُولِ النَّقْلِ، عَنْ أُمِّ الْوَلَدِ وَالْمَلَاهِي. وَأَرَدْنَا بِالْفَائِدَةِ: الثَّمَرَةَ وَاللَّبَنَ وَنَحْوَهُمَا، وَبِالْمَنْفَعَةِ: السُّكْنَى وَاللُّبْسَ وَنَحْوَهُمَا. وَقَوْلُنَا: تُسْتَأْجَرُ لَهَا، احْتِرَازٌ مِنَ الطَّعَامِ وَنَحْوِهِ. وَنُوَضِّحُهُ بِمَسَائِلَ:
إِحْدَاهَا: يَجُوزُ وَقْفُ الْعَقَارِ وَالْمَنْقُولِ، كَالْعَبِيدِ، وَالثِّيَابِ، وَالدَّوَابِّ، وَالسِّلَاحِ، وَالْمَصَاحِفِ، وَالْكُتُبِ، سَوَاءٌ الْمَقْسُومُ وَالْمُشَاعِ، كَنِصْفِ دَارٍ وَنِصْفِ عَبْدٍ، وَلَا يَسْرِي الْوَقْفُ مِنْ نِصْفٍ إِلَى نِصْفٍ[16]
Artinya: Rukun yang kedua dari akad wakaf adalah Objek wakaf. Objek wakaf adalah semua benda yang jelas bentuknya, dimiliki penuh oleh si wakif yang bisa dipindahkan, menghasilkan faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Kami mendiskualifikasikan hak manfaat, barang dalam dhimmah, wakaf budak yang belum jelas, barang yang belum dimiliki, ummu walad, dan alat hiburan/musik.
Dan yang kami maksudkan dengan faedah adalah buah dan susu dan yang semisal dengannya, sedangkan manfaat adalah tempat, pakaian dan seumpanya. Dan perkataan kami mengambil sewa adalah tidak termasuk makanan dan seumpamanya.
Salah satunya yaitu dibolehkan wakaf benda tidak bergerak dan benda bergerak lainnya seoerti budak, pakaian,obat-obatan, senjata, mushaf, kitab, milik umum maupun bagian tersendiri seperti sepedua tanah pekarangan, seperdua budak, dan tidak boleh wakaf seperdua kepada seperdua.

Berdasarkan penggalan isi kitab di atas, penulis melihat perihal utama objek wakaf yang disampaikan oleh Imam Nawawi adalah semua benda yang jelas bentuknya, dimiliki si wakif, bisa dipindahkan, menghasilkan faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Beliau tidak membolehkan wakaf manfaat karena dianggap tidak masuk ketegori ain. Sedangkan mengenai “manfat atau faedah” beliau tidak mensyaratkan harus berkekalan secara terus menerus, hal ini menurut penulis mengisyarahkan kebolehan wakaf benda bergerak yang sifatnya temporal seperti contoh di atas yaitu “kami maksud dengan faedah adalah buah-buahan dan susu.”
Dalam Kitab Mughni Muhtaj
 (وَ) شَرْطُ (الْمَوْقُوفِ) مَعَ كَوْنِهِ عَيْنًا مُعَيَّنَةً مَمْلُوكَةً مِلْكًا يَقْبَلُ النَّقْلَ وَيَحْصُلُ مِنْهَا فَائِدَةٌ أَوْ مَنْفَعَةٌ يَسْتَأْجِرُ لَهَا (دَوَامُ الِانْتِفَاعِ بِهِ) انْتِفَاعًا مُبَاحًا مَقْصُودًا، فَخَرَجَ بِالْعَيْنِ الْمَنْفَعَةُ.
 وَالْمُرَادُ بِالْفَائِدَةِ اللَّبَنُ وَالثَّمَرَةُ وَنَحْوُهُمَا، وَبِالْمَنْفَعَةِ السُّكْنَى وَاللُّبْسُ وَنَحْوُهُمَا وَبِيَسْتَأْجِرُ لَهَا وَبِدَوَامِ الِانْتِفَاعِ الطَّعَامُ وَنَحْوُهُ كَمَا سَيَأْتِي، وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ وَقْفُ الْفَحْلِ لِلضِّرَابِ فَإِنَّهُ جَائِزٌ وَلَا تَجُوزُ إجَارَتُهُ، وَمِنْ دَوَامِ الِانْتِفَاعِ الْمُدَبَّرُ وَالْمُعَلَّقُ عِتْقُهُ بِصِفَةٍ فَإِنَّهُ يَصِحُّ وَقْفُهُمَا مَعَ أَنَّهُ لَا يَدُومُ النَّفْعُ بِهِمَا؛ لِأَنَّهُمَا يُعْتَقَانِ بِمَوْتِ السَّيِّدِ وَوُجُودِ الصِّفَةِ وَيَبْطُلُ الْوَقْفُ. وَبِمُبَاحًا وَقْفُ آلَاتِ الْمَلَاهِي فَلَا يَصِحُّ وَقْفُهَا، وَإِنْ كَانَ فِيهَا مَنْفَعَةٌ قَائِمَةٌ، لِأَنَّهَا غَيْرُ مُبَاحَةٍ، وَبِمَقْصُودًا وَقْفُ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ لِلتَّزْيِينِ فَإِنَّهُ لَا يَصِحُّ عَلَى الْأَصَحِّ الْمَنْصُوصِ[17]
(وَيَصِحُّ وَقْفُ عَقَارٍ) مِنْ أَرْضٍ أَوْ دَار بِالْإِجْمَاعِ (وَ) وَقْفُ (مَنْقُولٍ) كَعَبْدٍ وَثَوْبٍ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «وَأَمَّا خَالِدٌ فَإِنَّكُمْ تَظْلِمُونَ خَالِدًا فَإِنَّهُ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْبُدَهُ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، وَأَعْبُدَهُ رَوَاهُ الْمُتَوَلِّي بِالْبَاءِ الْمُوَحَّدَةِ جَمْعُ عَبْدٍ.
(وَ) وَقْفُ (مُشَاعٍ) مِنْ عَقَارٍ أَوْ مَنْقُولٍ؛ لِأَنَّ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – وَقَفَ مِائَةَ سَهْمٍ مِنْ خَيْبَرَ مُشَاعًا، رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ،[18]

Senada dengan Imam Nawawi di atas, Syeikh Muhammad juga memberikan penjelasan yang hampir sama bahwasanya objek wakaf merupakan semua benda yang jelas bentuknya, dimiliki si wakif, bisa dipindahkan, menghasilkan faedah atau manfaatnya dengan cara disewakan. Beliau tidak membolehkan wakaf manfaat karena dianggap tidak masuk ketegori ain, namun beliau memberikan penekanan bahwa objek wakaf mestilah benda yang memberikan manfaat secara terus menerus dan bersifat mubah. Dan secara gamblang beliau menegaskan ketidakabsahan alat musik dikarenakan keluar dari kontek manfaat yang mubah, sedangkan wakaf dinar ataupun dirham yang dimaksudkan untuk hiasan semata, tidak sah dilakukan.
Berdasarkan teks di atas juga, penulis mengusulkan perlunya kajian dan analisis serta study terhadap pendapat para ulama-ulama lain perihal boleh atau tidaknya dirham sebagai objek wakaf yang pemanfaatannya diwujudkan dalam bentuk lain seperti dikemukakan di atas.

4.     Menurut Ulama Mazhab Hambaliah
           Ibnu Qudamah Dalam Kitabnya Al-Mughni
مَسْأَلَةٌ؛ قَالَ: (وَيَصِحُّ الْوَقْفُ فِيمَا عَدَا ذَلِكَ) وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ الَّذِي يَجُوزُ وَقْفُهُ، مَا جَازَ بَيْعُهُ، وَجَازَ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ، وَكَانَ أَصْلًا يَبْقَى بَقَاءً مُتَّصِلًا، كَالْعَقَارِ، وَالْحَيَوَانَاتِ، وَالسِّلَاحِ، وَالْأَثَاثِ، وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ. قَالَ أَحْمَدُ، فِي رِوَايَةِ الْأَثْرَمِ: إنَّمَا الْوَقْفُ فِي الدُّورِ وَالْأَرْضِينَ، عَلَى مَا وَقَفَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. وَقَالَ فِي مَنْ وَقَفَ خَمْسَ نَخَلَاتٍ عَلَى مَسْجِدٍ: لَا بَأْسَ بِهِ. وَهَذَا قَوْلُ الشَّافِعِيِّ[19]
Artinya: dan sah lah wakaf semua barang yang boleh diperjual belikan serta kekal ainnya sewaktu dimanfaatkan. Kekal ain adalah yang bersifat terus menerus bukan temporal seperti benda tidak bergerak, hewan, pedang, bangunan dan sejenisnya. Dalam riwayat asram Imam ahmad berkata bahwasanya wakaf hanya sah dilakukan pada bangunan serta tanahnya, hal tersebut berdasarkan objek wakaf sahabat Rasulullan saw, yaitu Nabi SAW bersabda terhadap orang-orang yang mewakafkan nakhlat untuk menjid, nabi menjawab boleh, dan ini merupakn pendapat imam syafi’e.

Dalam kitab Al-Kafi Fii Fiqhi Imam Ahmad
ولا يصح وقف ما لا ينتفع به مع بقاء عينه، كالأثمان، والمأكول والمشروب، والشمع؛ لأنه لا يحصل تسبيل ثمرته مع بقائه، ولا ما يسرع إليه الفساد، كالرياحين؛ لأنها لا تتباقى، ولا ما لا يجوز بيعه: كالكلب، والخنزير، ولا المرهون، والحمل[20]
Artinya: Dan Tidak sah wakaf barang/benda yang tidak bisa diambil manfaat serta tidak kekal ainnya seperti asman, makanan, minuman, lilin, dikerenakan barang tersebut tidak menghasilkan jalan mengambil manfaat serta kekal ainnya. Dan tidak sah wakaf juga barang yang cepat rusak seperti perfum dikarenakan tidak kekal ainnya. Dan tidak sah wakaf juga semua barang yang tidak boleh diperjualbelikan seperti anjing, babi, objek gadai, barang tanggungan.

Berkenaan dengan teks kitab di atas penulis mengambil intisari bahwasanya penekanan utama objek wakaf perspektif ulama mazhab hambaliah adalah semua benda yang menghasilkan manfaat serta kekal ainnya dan beliau mendiskualifikasikan benda-benda yang cepat hilang ainnya sewaktu dimanfaatkan dan benda-benda yang tidak sah diperjualbelikan.

Dalam kitab Al-Hidayah ‘Ala Mazahibil Ahmad
والوَقْفُ مُسْتَحَبٌّ، ولا يَصِحُّ إلاَّ مِمَّنْ يَصِحُّ تَصَرُّفُهُ، ويَصِحُّ في كُلِّ مال عَيْنٍ يَصِحُّ الانْتِفَاعُ بِهَا مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهَا دَائِماً كالعَقَارِ والأثَاثِ والحَيَوَانِ والسِّلاحِ، فأمَّا الوَقْفُ في الذِّمَّةِ نَحْوَ قَوْلِهِ: وَقَفْتُ دَاراً أو عَبْداً فَلاَ يَصِحُّ، وَكَذَلِكَ وَقْفُ مَا لَيْسَ بِمَالٍ كَالكَلْبِ وأُمِّ الوَلَدِ لا يَصِحُّ، وأمَّا وَقْفُ ما لاَ يُنْتَفَعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ كالطَّعَامِ والأثْمَانِ مِمَّا لا يَبْقَى عَلَى الدَّوَامِ كالمَشْمُومِ فَلا يَجُوزُ. وأمَّا وَقْفُ الحِلِيِّ عَلَى الإعَارَةِ واللِّبْسِ فَجَائِزٌ عَلَى ظَاهِرِ[21]
Artinya:Wakaf merupakan perbuatan sunat, ia hanya sah dilakukan oleh orang-orang yang sah tasharrufnya. Semua jenis harta yang nyata, bisa diambil manfaat serta tetap kekal ainnya dalam waktu yang lama sah untuk diwakafkan, seperti benda tidak bergerak, bangunan, hewan dan pedang. Adapun mewakafkan barang dalam dhimmah tidak sah dilakukan seperti pekarangan ataupun budak, demikian juga benda yang tidak masuk kategori harta seperti anjing dan ummu walad. Dan tidak diperbolehkan juga untuk mewakafkan barang-barang yang hilang ainnya pada saat dimanfaatkan seperti asman dan makanan, juga barang-barang yang tidak bisa dimanfaatkan secara berkekalan seperti rumputan. Dan adapun mewakafkan perhiasan dengan cara dipinjamkan dan untuk dipakai dibolehkan berdasarkan pendapat yang dhahir.

Dalam penggalan teks kitab di atas, pengarang kitab Hidayah mempunyai perspektif yang sama dengan penulis alkafi mengenai kriteria objek wakaf, beliau hanya menambahkan bahwa wakif mestilah orang yang sah tasharrufnya. Sedangkan isu terpenting yang penulis anggap perlu pengkajian lebih lanjut adalah perihal kebolehan wakaf perhiasan yang diperuntukkan untuk dipinjamkan dan dipakai, di mana perihal manfaat disini dalam bentuk “dipakai” hampir semakna dengan “hiasan” merupakan bentuk manfaat yang dilarang oleh ulama Syafi’iyah.

F.    Penutup
Perihal objek wakaf, para ulama telah sepakat mengenai keabsahan wakaf benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, namun para ulama masih berbeda pendapat perihal benda bergerak, jumhur ulama sepakat syarat utama pada benda bergerak adalah mempunyai manfaat mubah yang sifatnya bisa dimanfaatkan secara terus menerus dengan tidak menghilangkan ainnya, sedangkan pada benda bergerak yang hanya bisa dimanfaatkan secara temporal para ulama juga berbeda pendapat. Dasar pijakan utama tentang wakaf benda tidak bergerak adalah dalil yang sudah jelas legalitasnya yaitu hadis tentang wakaf tanah khaibar yang dilakukan oleh Umar ra, sedangkan keabsahan wakaf benda bergerak adalah wakaf kuda yang dilakukan oleh khalid dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah. Kebanyakan para ulama menganalisis hadis tersebut secara mendalam dalam usahanya menentukan jenis-jenis benda yang boleh diwakafkan, namun ulama mazhab hanafi menambahkan bahwa uruf dan kebutuhan umat bisa dijadikan sebagai metode menetukan objek wakaf.




[1]Ibnu Hajar Asqalani, Bulughul  Maram, Pada Bab Waqaf, Online http://islamic-defenders.blogspot.co.id/2012/07/bulughul-maram-bab-waqaf.html.
[2]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal 269.
[3] Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah:Terj Abdurrahim dan Masrukhin; Penyunting: Masrukhin, Jil 5, cet ke 2 (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009) hal. 532.
[4]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal 269-272.
[5]Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu: Terj Abdul Hayyie al-Katani, dkk; Penyunting Budi Permadi, Jilid ke-10, cet ke-1(Jakarta: Gema Insani, 2011), hal.275
[6]Ibnu Hajar Asqalani, Bulughul  Maram, Pada Bab Waqaf, Online http://islamic-defenders.blogspot.co.id/2012/07/bulughul-maram-bab-waqaf.html

[7]Ahmad Zain An-Najah, HukumWakafTunai, online pada https://www.ahmadzain.com/read/ilmu/420/hukum-wakaf-tunai/.
[8]الموسوعة الفقهية - (ج 2 / ص 14537)
[9]الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 129 / ص 9)الموسوعة الفقهية - (ج 78 / ص 9
[10]الموسوعة الفقهية - (ج 2 / ص 14537)
[11]الموسوعة الفقهية - (ج 2 / ص 14537), Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu,..hal 277
[12]الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 129 / ص 9)الموسوعة الفقهية - (ج 78 / ص 9
[13]Muhammad bin Ahmad bin ‘Urfah Dusuqy Al-Maliki, Hasyiah Dusuqy ‘Ala Syarhi Kabir, Jil 4, (Maktabah Syamilah 11 GB: DarulFikr, 1230 H), hal. 75-76.
[14]Zakaria bin Muhammad bin Ahmad Zakaria Ansary, Fathul Wahab Bi Syarhi Minhajuj Thullab, jil 1 (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Fikr,1994 M/1414 H), hal 306
[15]Ahmad Salamah Al-Qulyubi dan Ahmad Albarlisi ‘Umairah, Hasyiata Qulyubi Wal ‘Umairah Jil, 3 (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Fikri Beirut, 1995), hal, 99
[16]Abu Zakaria Mahyiddin Yahya Bin Syarif An-Nawawi, Raudhatut Thalibin Wa ‘Undatul Muftin, Jil 5, (Maktabah Syamilah 11 GB: Maktab Islami, 1991), hal 314
[17]Syamsuddin Muhammad bin Ahmad alkhatib Syarbaini As-Syafi’e, Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifatil Ma’ani Alfadhil Minhaj, Jil 3 (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Kitab Ilmiah,1994 H), hal. 524
[18]Syamsuddin Muhammad bin Ahmad alkhatib Syarbaini As-Syafi’e, Mughni al-Muhtaj,...hal. 525
[19]Abu Muhammad Muwafiquddin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Qudamah Jama’ili al maqdisy, Muqhni Ibnu Qudamah, Jil, 6, (Maktabah Syamilah 11 GB: Maktabah Syahirah, 1968), hal. 36
[20]Abu Muhammad Muwafiquddin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Qudamah Jama’ili al maqdisy, Al-Kafi Fii Fiqhi Imam Ahmad, Jil, 2, (Maktabah Syamilah 11 GB: Darul Kitab Ilmiah, 1994), hal, 250
[21]Mahfud bin Ahmad bin Husain, Al-hidayah ‘AlaMazahibil Ahmad Al-Syaibani, Jil. 1 (Maktabah Syamilah 11 GB: MuassasahGharsi, 2004), hal. 334

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wakaf Tunai